Lombok Timur – Pimpinan Cabang Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (PC HIMMAH NW) Kabupaten Lombok Timur kembali menggelar forum diskusi intelektual melalui kegiatan Majlis Batu Ngompal (MBN) pada Jum’at, 30 Januari 2026 bertempat di Sekretariat HIMMAH NW Kabupaten Lombok Timur.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WITA tersebut mengangkat tema “Kuasa, Penindasan, dan Kampus: Filsafat Sosial dalam Pergerakan Mahasiswa.” Tema ini dipilih sebagai bentuk refleksi kritis terhadap dinamika kehidupan kampus serta peran mahasiswa dalam merespons berbagai persoalan sosial.
Ketua PC HIMMAH NW Lombok Timur, Abdurrahman, S.Pd, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya ruang-ruang diskusi sebagai wadah pembentukan nalar kritis mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam realitas sosial, tetapi harus mampu mengambil peran sebagai penggerak perubahan.
Diskusi dipandu oleh Doni Aprianto selaku moderator dan menghadirkan Kakek Ashwan Kailani, M.Sn sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kampus sejatinya bukanlah ruang yang sepenuhnya netral. Di dalamnya terdapat relasi kuasa yang memengaruhi kebijakan, akses, hingga kebebasan berpikir mahasiswa.
Menurutnya, bentuk penindasan di era modern tidak selalu hadir dalam wujud fisik, tetapi dapat berupa pembungkaman terhadap suara kritis, kebijakan yang tidak berpihak kepada mahasiswa kecil, serta sistem akademik yang cenderung mematikan daya reflektif mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kesadaran sosial agar ilmu yang dipelajari tidak terlepas dari realitas masyarakat.
Lebih lanjut, pemateri menekankan pentingnya filsafat sosial dalam membangun arah pergerakan mahasiswa. Filsafat sosial membantu mahasiswa memahami akar ketimpangan, membaca struktur kekuasaan, serta merumuskan langkah perubahan yang lebih terarah dan bertanggung jawab. Pergerakan mahasiswa, menurutnya, tidak cukup hanya dengan aksi, tetapi harus didasari analisis, data, serta etika perjuangan.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah telah mencatat peran penting mahasiswa dalam berbagai perubahan sosial. Namun peran tersebut hanya akan tetap hidup apabila mahasiswa tidak bersikap apatis, mau belajar dari realitas masyarakat, dan bergerak dengan kesadaran, bukan sekadar ikut arus.
Kegiatan MBN ini berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta diskusi. Forum ini diharapkan dapat terus menjadi ruang dialektika yang menumbuhkan tradisi berpikir kritis, keberanian moral, serta komitmen mahasiswa HIMMAH NW dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial.















